Safari Dakwah MUI Agam

MUI AGAM ADAKAN SAFARI DAKWAH KE DUO KOTO TANJUNG RAYA

 


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Agam terus berkomitmen hadir di tengah umat melalui program Safari Dakwah. Pada Senin (30/6), MUI Agam menyapa masyarakat Jorong Koto Tinggi, Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, dengan menggelar Safari Dakwah di Masjid Nurul Iman.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua MUI Agam, Buya Dr. Muhammad Taufiq, M.Ag, yang juga bertindak sebagai penceramah. Kehadiran Buya bersama rombongan MUI Agam disambut antusias oleh ratusan jamaah. Tercatat lebih dari 100 orang memenuhi Masjid Nurul Iman, menandakan kerinduan masyarakat terhadap sentuhan dakwah ulama.

Dalam ceramahnya, Buya Taufiq menekankan pentingnya meneladani semangat Rasulullah SAW dalam berdakwah dan berhijrah. Buya menguraikan bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau melakukan tiga hal penting yang menjadi tonggak berdirinya masyarakat Islam yang kuat. “Pertama, Rasulullah membangun masjid di Quba, yang menjadi masjid pertama dalam sejarah Islam. Ini menegaskan bahwa masjid adalah pusat peradaban umat,” papar Buya Taufiq di hadapan jamaah. Sebagai kampung Buya Hamka, Maninjau memiliki contoh dan suritauladan dalam membangun Islam yang diawali dari masjid yaitu Buya Hamka. Sebagai Masyarakat Agam kita bangga dengan tokoh nasional yang sekaligus ketua MUI pertama yang berasal dari Maninjau Sungai Batang.

Kedua, lanjut Buya, Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Ikatan persaudaraan itu berhasil merajut kebersamaan dan menghapus sekat-sekat yang berpotensi memecah belah umat. Mari kita cari titik temu antara kita dan kita jauhi perbedaaan yang memungkinkan terjadinya perpecahan apalagi masalah furu’iyah yang sejak dulunya sudah ada terjadi perbedaan pendapat. Potensi berpecah belah sangat besar, apalagi dalam kondisi ekonomi yang tidak baik-baik amat dan kemajuan teknologi juga memicu terjadinya perpecahan.

“Ketiga, Rasulullah menyusun dustur atau undang-undang yang menjadi pedoman hidup bersama di Madinah. Dengan dasar hukum yang adil dan berkeadilan, masyarakat menjadi tentram dan sejahtera,” sambungnya. Dalam konteks Masyarakat Agam, semangat membangun peraturan yang sejalan dengan karakter Masyarakat Agam sangat diperlukan. Agam Madani yang selalu dijadikan icon perubahan ke arah yang lebih baik, dapat dijadikan sebagai motivasi hidup lebih Islami dan religious lagi.  

Buya Taufiq mengajak masyarakat Koto Tinggi untuk memetik pelajaran dari strategi dakwah Rasulullah, terutama dalam membangun kebersamaan dan persatuan di tengah tantangan zaman.

Safari dakwah ini mendapat apresiasi hangat dari pengurus Masjid Nurul Iman, Jendrizal Dr. Tumbijo, yang juga Walinagari Duo Koto dan sekaligus Wakil Ketua MUI Agam. “Atas nama masyarakat dan pemerintah nagari, kami sangat berterima kasih karena MUI Agam berkenan memilih masjid kami sebagai lokasi safari dakwah. Ini menjadi penyemangat kami untuk terus memakmurkan masjid dan memperkuat ukhuwah,” ungkapnya.

Wakil Ketua MUI Agam lainnya, Ust. Marwan Abbas, S.Pd.I, turut menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan masyarakat Koto Tinggi. Ia menilai kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi yang memperkuat hubungan antara ulama, pemerintah, dan umat.“Kami merasa diterima dengan sangat baik di sini. Jamaah begitu antusias dan suasananya penuh keakraban. Ini bukti bahwa masyarakat masih merindukan bimbingan ulama,” ujar Marwan Abbas.

Ust. Marwan Abbas menegaskan bahwa kegiatan ini murni atas swadaya MUI Agam dengan landasan semangat hijrah dan jihad menyebarkan agama Allah. Mohon dukungan dari Masyarakat Agam secara keseluruhan. Apalagi Bupati Agam telah mencanangkan Bangkik dari Surau.

Safari dakwah di Masjid Nurul Iman Koto Tinggi ini diakhiri dengan makan bersama dan ramah tamah antara rombongan MUI Agam dengan tokoh masyarakat setempat. Kehangatan ukhuwah yang terjalin diharapkan terus berlanjut, menjadi pondasi bagi terciptanya masyarakat yang religius, damai, dan Sejahtera (MT).